Rabu, 23 November 2016

Kisah Perjalanan Taubat Pembunuh 100 Orang





Suatu ketika, Rasulullah SAW menyampaikan kisah seorang anggota sebuah "geng" Bani Israil yang telah membunuh sembilanpuluh sembilan orang sebelum Islam datang. Dalam kisahnya, Rasulullah SAW menceritakan bahwa orang ini kemudian menyesal dan ingin bertaubat. Maka ia pun lalu mendatangi seorang pendeta. Ia menanyakan apakah Allah masih berkenan menerima taubatnya, mengampuni dan melimpahkan rahmat kepadanya?

Sang Pendeta mengatakan bahwa dia sudah terlalu jahat, dosanya sudah terlau banyak dan tidak bisa diampuni lagi. Demi mendengar jawaban sang rahib yang mengatakannya sudah terlalu jahat, maka ia menjadi marah dan membunuh Pendeta tersebut, sebagai orang keseratus yang dibunuhnya.

Namun dia kembali menyesali perbuatannya dan bertanya kepada seorang alim dari Ahli Kitab. Rupanya, Ahli Kitab ini lebih bijak, dengan mengatakan bahwa masih ada jalan untuk bertaubat. Namun terdapat syarat yang harus dijalaninya.

Orang yang telah membunuh seratus manusia ini harus keluar dari negerinya dan pergi ke negeri seberang. Di sana ia akan menemui banyak sekali orang-orang yang sedang bertaubat dan senantiasa berbuat baik serta meminta ampun kepada Allah SWT.

Maka ia pun berniat taubat dan memulai perjalanannya. Hingga di tengah perjalanan dia jatuh dan mati atas takdir Allah SWT. Melihat hal ini, Malaikat Rahmat (pemelihara) dan Malaikat Adzab (penyiksa) kemudian mendatangi sosok jenazah orang tersebut. Kedua malaikat ini terlibat perselisihan, keduanya mengakui orang tersebut sebagai bagiannya. Sang malaikat pemelihara menginginkan untuk memelihara dan memuliakannya. Sementara malaikat penyiksa juga menginginkan untuk menyeret dan menyiksanya.

Kedua mailaikat tersebut kemudian menghadap Allah SWT, hingga Allah memerintah keduanya untuk mengukur jumlah langkah pembunuh yang telah mati dan bertaubat tersebut. Setelah diukur, maka diketahuilah bahwa tubuhnya telah satu jengkal lebih dekat ke arah tujuan. Ia telah meninggalkan wilayah kemaksiatannya lebih jauh.

Maka dia pun menjadi milik malaikat rahmat (pemelihara), sementara dosa-dosanya membunuh seratus orang telah diampuni seluruhnya oleh Allah SWT. Benarlah bahwa di antara rahmat Allah SWT, adalah kecintaan pada hamba yang bertaubat kepada-Nya....Allah,SWT MAHA PENGASIH,,MAHA PENYAYANG,,,MAHA PENGAMPUN dan MAHA PENERIMA TAUBAT hamba-NYA,,,,,,

Subhannallah,,,,ALLAHU AKBAR

JIKA TIDAK SANGGUP MENCINTA ALLAH DAN RASUL-NYA



Assalamua'laikum Warahmatullahi Wabarakatuh..

Saudara/i ku semuanya di Grup Tauhid Murni yang di Rahmati Allah SWT., ini.

Apabila tidak sanggup mencintai Allah SWT dan Rasulullah Muhammad SAW.

Maka..
Cintailah orang yang mencintai Allah SWT dan Rasulullah Muhammad SAW.

Apabila tidak bisa mencintai orang yang mencintai Allah SWT dan Rasulullah Muhammad SAW.

Maka..
Cintailah orang yang mencintai orang yang cinta sama Allah SWT dan Rasulullah Muhammad SAW.

Inilah salah satu orang yang saling bergandengan tangan masuk Sorga nantinya.

Sesungguhnya.
Nantinya di akhirat orang bersama apa yang dicintainya.

Tegasnya

Janganlah memusuhi orang yang punya jalur cinta sama Allah SWT.

Salah satu ajaran Ana Al-Haq




Dulu Saya punya pemahaman seperti ini.,


Alhamdulillah...


Sudah dua belas tahun lebih saya tinggalkan pemahaman ini.

4 Macam Maqam atau tingkatan orang yg melakukan Amal Shaleh dalam ilmu Tasawuf.

1. muftadi ,orang yang beramal
dengan i`tikad lillahi ta'ala [karena
atau kepada Allah]. Orang ini masih
berkutat dalam masalah
kelengkapan syarat dan rukun
untuk menghadap Allah. Masih
bersifat dari dirinya kepada Allah.


2. mubtadi ,orang yang beramal
dengan i`tikad minallahi ta`ala
[dari Allah]. Orang ini memandang
dari Allah-lah sehingga dirinya bisa
beramal ibadah. Masih bersifat dari
Allah kepada dirinya.



3. mutawasit ,orang yang beramal
dengan i`tikad billahi ta`ala
[dengan Allah]. Orang ini
memandang dengan Allah-lah
sehingga dirinya bisa beramal
ibadah. Masih besertaan dirinya
dengan Allah.



4. muntahi ,orang yang beramal
dengan i`tikad lillahi ta`ala,
minallahi ta`ala, dan billahi ta`ala
sekaligus. Dipandangnya semua
sehingga tidak dipandangnya
dirinya ada, yang ada sudah
Perbuatan, Kelakuan, Asma, dan Zat
Allah semata. Tiada merasa ada diri
lagi, sudah semuanya Allah semata.
Untuk sempurna mengetahui Allah,
ketahuilah asal diri. Bukankah yang
dijadikan Allah itu zat, sifat, asma,
dan af`al. Ini yang perlu diketahui.


Kata Ibnu Abbas r.a., kepada Nabi
Saw., dia bertanya:
"Yaa junjunganku, apa yang mula-
mula dijadikan Allah Ta`ala?"
Sabda Nabi Muhammad Saw.,
" Innallaaha khalawa qablal asya`i
nuurun nabiyyika ."
Sesungguhnya Allah telah
menjadikan yang mula-mula dari
segala sesuatu ialah Cahaya
Nabimu [Nur Muhammad].
Nyatalah, Nur Nabi itulah mula-
mula dari sekalian alam.
Dan kata Abdul Wahab Syarani r.a.
dari Nabi Muhammad Saw.:
" Innallaaha khalaqarruuhin nabiy
Muhammad Shalallaahu `alaihi
wasalam min zaatihi wa
khalaqarruuhin alam ."
Sesungguhnya Allah menjadikan
ruh Nabi Muhammad Saw. dari Zat-
Nya [Zat Allah] dan menjadikan ruh
sekalian alam dari Nur Muhammad.
Sadarilah. Segala sesuatu jenis
yang zahir [korporeal; jasadi] dari
Nur Muhammad, sedangkan ruh-
ruhnya dari Zat Allah. Pandanglah
diri kita, jasad ini Nur Muhammad;
ruh ini dari Zat Allah. Sifat dan zat
itu satu [compact].


Contoh:
Kalau ketan dengan ragi: satu,
dinamailah tapai.
Kalau Zat dan Sifat: satu, dinamai
diri siapa diri kita ini? Tentulah Diri
Allah.
Nur itu Sifat, Zat itu Rahasia.
Zat itu hayyun se-hayyun-hayyu n-
nya. Maka yang hiduplah yang
berkelakuan, mana mungkin yang
mati [fana] yang berkelakuan.
Kalau kita sudah tahu bahwa Zat
itu Wujud Allah; dan Wujud Allah
itu Diri Allah, maka Rahasia, itulah
Diri Allah. Kalau sudah paham ini,
jangan lagi kamu sebut Diri Allah
yang berkelakuan. Sebut dengan
sebenar-benarny a: Allah yang
berelakuan. Karena dalam hakikat
tauhid: sudah tidak ada wujud
baharu lagi. Apa pun yang kamu
lihat, Wujud Allah yang Ada.
Wujud Allah itu Zat Allah; Zat Allah
itu Diri Allah.


Kalau sudah tahu Allah, tidak perlu
lagi kamu mau sama dengan Allah
atau mau jadi Allah. Kalau sudah
Allah, ya tetap Allah. Allah tetap
Allah; baharu tetap baharu. Mana
mungkin baharu bisa jadi Allah
atau Allah jadi baharu.


Jadi, diri manusia ini Diri Allah
karena diri manusia ini Zat-Sifat.
Jadi yang dikatakan shalat itu, Diri
Allah memuji Tuhan-Nya. Kalau
kesadaran ini kamu pegang terus,
boleh kamu rasakan setiap tidur
kamu mendapat hidayah.

Hikmah Wahyu Pertama






Mengambil Hikmah., dari wahyu pertama turun sama Rasulullah Muhammad SAW., Surat Al A'laq (Segumpal darah). Qura'n, 96. 1-5.

1. Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang mencipta.
2. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
3. Bacalah., dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah.
4. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam.
5. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak di ketahuinya.

Dari judul ayat., telah tegas menyatakan hati, sesungguhnya., dalam diri manusia ada segumpal darah. Apabila rusak segumpal darah tersebut, maka rusak pulalah manusianya, segumpal darah tersebut adalah hati.

1. Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang mencipta.
Bacalah = menuntut ilmu.
Jadi., tuntutlah Ilmu yang yang mengingatkan pada perjanjian awal roh., Allah SWT., berfirman., bukankah Aku., Tuhanmu., kemudian roh menjawab., benar Engkau Tuhanku..

2. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
Segumpal darah adalah hati.
Segala sesuatu yang di langit dan di bumi tidak bisa memuat Allah SWT., kecuali hati hamba-Nya., yang Shaleh.
Allah SWT., berfirman., Aku., berada di hati hamba-Ku., yang Shaleh.

Sebuah amal yang berasal dari hati yang murni dan tulus, tidaklah sama dengan sebuah amal yang di dorong oleh keinginan-keinginan, ketakutan-ketakutan, dan ambisi-ambisi pribadi.
Hasil dari perbuatan berbeda-beda sesuai dengan nia't dan kondisi kalbunya.
Perbuatan adalah gerakan lahir dari apa yang ada dalam kalbu dan tergantung pada keadaannya.
Maka., seluruh kondisi dan pengamalan yang ada mencerminkan keadaan kalbu yang sebenarnya.

3. Bacalah., dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah.
Bacalah = Menuntut ilmu.
Jadi ilmu Spritual itu adalah ilmu yang murah untuk mempelajarinya, tidak membutuhkan biaya besar, waktu khusus seperti pendidikan formal dewasa ini., untuk mendapatkan gelar Sarjana.

4. Yang mengajar (manusia) dengan perantara kalam.
Jadi., Ilmu Spritual yang baik dan benar adalah., mendapatkan petunjuk lansung dari sisi-Nya atau Ilmu Laduni. 
Bukan mencari wangsit, ilham, ide atau petunjuk dari selain Allah SWT., seperti petunjuk dari sisi Jin, Syaitan dan lain-lain. 
Atau dengan tujuan menjadi orang sakti atau mendapat karamah. 

5. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak di ketahuinya.
Maka Allah SWT., akan membukakan perbendaharaan Ilmu-Nya., bagi yang telah bisa menempatkan Allah SWT., di hatinya, sehingga Allah SWT., menjadi lebih dekat dari urat nadinya.

Perbedaan Ilmu Akhlak Dan Keilmuan Lainnya




PERBEDAAN ILMU AKHLAK DAN KEILMUAN LAINNYA
PERBEDAAN ILMU AKHLAK DAN KEILMUAN LAINNYA

BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang
Pada dasarnya setiap ilmu pengetahuan satu dan lainnya saling berhubungan. Namun hubungan tersebut ada yang sifatnya berdekatan, yang pertengahan dan ada pula yang agak jauh.
Ilmu yang hubungannya dengan Ilmu Akhlak dapat dikategorikan berdekatan antara lain Ilmu Tasawuf, Ilmu Tauhid, Ilmu Pendidikan, Ilmu Jiwa dan Filsafat. Sedangkan ilmu-ilmu yang hubungannya dengan Ilmu Akhlakdapat dikategorikan pertengahan adalah Ilmu Hukum, Ilmu Sosial, Ilmu Sejarah, dan Ilmu Antropologi. Dan ilmu-ilmu yang agak jauh hubungannya dengan Ilmu Akhlak adalah Ilmu Fisika, Ilmu Biologi, dan Ilmu Politik.1
Dalam uraian berikut ini akan dibahas beberapa hubungan antara Ilmu Akhlak dengan ilmu lainnya, diantaranya:
1. Apakah hubungan antara Ilmu Akhlak dengan Ilmu Tauhid?
2. Apakah hubungan antara Ilmu Akhlak dengan Ilmu Tasawuf?
3. Apakah hubungan antara Ilmu Akhlak dengan Ilmu Filsafat?
4. Apakah hubungan antara Ilmu Akhlak dengan Hukum Islam?

BAB II
PEMBAHASAN

1. Hubungan antara Ilmu Akhlak dengan Ilmu Tauhid

Hubungan antara Ilmu Akhlak dengan Ilmu Tauhid merupakan hubungan yang bersifat berdekatan, sebelum membahas lebih jauh apa hubungan antara Ilmu Akhlak dengan Ilmu Tauhid terlebih dahulu kita mengingat kembali apa pengertian Ilmu Akhlak dan Ilmu Tauhid.
Menurut Ibn Maskawih Akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan macam-macam perbuatan dengan mudah tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbamgan.
Sedangkan Ilmu Tauhid adalah Ilmu yang membahas tentang cara-cara mengEsakan Tuhan sebagai salah satu sifat yang terpenting diantar sifat Tuhan lainnya.2
Hubungan Ilmu antara Ilmu Akhlak dengan Ilmu Tauhid dapat dilihat melalui beberapa analisis
Pertama, dilihat dari segi obyek pembahasannya, Ilmu Tauhid sebagaimana diuraikan di atas membahas masalah Tuhan baik dari segi Dzat, sifat, dan perbuatan-Nya. Kepercayaan yang mantap kepada Tuhan yang demikian itu, akan menjadi landasan sehingga perbuatan yang dilakukan manusia semata-mata karena Allah SWT. Dengan demikian Ilmu Tauhid akan mengarahkan perbuatan manusia menjadi ikhlas dan keikhlasan ini merupakan salah satu akhlak yang mulia. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Bayyinah, 98: 5) yang artinya:
Padahal mereka tidak disuruh supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus.
Kedua, dilihat dari segi fungsinya, Ilmu Tauhid menghendaki agar seseorang yang bertauhid tidak hanya cukup dengan menghafal rukun iman yang enam dengan dalil-dalilnya saja, tetapi yang terpenting adalah agar orang yang bertauhid itu meniru dan mencontoh terhadap subyek yang terdapat dalam rukun iman itu.
Masalnya jika seseorang beriman kepada malaikat, maka yang dimaksudkan antara lain adalah agar manusia meniru sifat-sifat yang terdapat pada malaikat, seperti sifat jujur, amanah, tidak pernah durhaka dan patuh melaksanakan segala yang diperintahkan Tuhan, percaya kepada malaikat juga dimaksudkan agar manusia merasa diperhatikan dan diawasi oleh para malaikat, sehingga ia tidak berani melanggar larangan Tuhan. Dengan cara demikian percaya kepada malaikat akan membawa kepada perbaikan akhlak yang mulia. Allah berfirman dalam QS. Al-Tahrim, 66: 6) yang artinya: (Malaikat-malaikat) itu tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka yang selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.
Dari uraian yang agak panjang lebar ini dapat dilihat dengan jelas adanya hubungan yang erat antara keimanan yang dibahas dalam Ilmu Tauhid dengan perbuatan baik yang dibahas dalam Ilmu Akhlak. Ilmu Tauhid tampil dalam memberikan bahasan terhadap Ilmu Akhlak, dan Ilmu Akhlak tampil memberikan penjabaran dan pengamalan dari Ilmu Tauhid. Tauhid tanpa akhlak yang mulia tidak akan ada artinya dan akhlak yang mulia tanpa Tauhid tidak akan kokoh. Selain itu Tauhid memberikan arah terhadap akhlak, dan akhlak memberi isi terhadap arahan tersebut. Disinilah letaknya hubungan yang erat dan dekat antara Tauhid dan Akhlak.3

2. Hubungan antara Ilmu Akhlak dengan Ilmu Tasawuf
Antara Ilmu Akhlak dan Ilmu Tasawuf memiliki hubungan yang berdekatan. Pengertian Ilmu Tasawuf adalah Ilmu yang dengannya dapat diketahui hal-hal yang terkait dengan kebaikan dan keburukan jiwa.4
Tujuan Ilmu Tasawuf itu sendiri adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan cara membersihkan diri dari perbuatan yang tercela dan menghias diri dengan perbuatan yang terpuji.
Dengan demikian dalam proses pencapaian tujuan bertasawuf seseorang harus terlebih dahulu berakhlak mulia.
Pada dasarnya bertasawuf adalah melakukan serangkaian ibadah seperti shalat, puasa, zakat, haji, dan sebagainya.
Hubungan antara Ilmu Akhlak dengan Ilmu Tasawuf lebih lanjutr dapat diuraikan sebagai berikut:
Ketika mempelajari tasawuf ternyata pula bahwa Al-Qur'an dan Al-Hadist mementingkan akhlak. Al-Qur'an dan Al-Hadist menekankan nilai-nilai kejujuran, kesetiakawanan, persaudaraan, rasa kesosialan, rasa keadilan, tolong-menolong, murah hati, suka memberi maaf, sabar, baik sangka, berkata benar, pemurah, keramahan, bersih hati, berani, kesucian, hemat, menepati janji, disiplin, mencintai ilmu, dan berfikir lurus. Nilai-nilai serupa ini yang harus dimiliki oleh seorang muslim dan dimasukkan ke dalam dirinya dari semasa ia kecil.5
Jadi hubungan antara Ilmu Akhlak dan Ilmu Tasawuf dalam Islam ialah bahwa akhlak merupakan pangkal tolak tasawuf, sedangkan tasawuf adalah esensi dari akhlak itu sendiri.6

3. Hubungan antara Ilmu Akhlak dengan Ilmu Filsafat
Sebagaimana Ilmu Tasawuf, Ilmu Filsafat juga mempunyai hubungan yang berdekatan dengan Ilmu akhlak. Pengertian Ilmu Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang berusaha menyelidiki segala sesuatu yang ada dan yang mungkin ada dengan menggunakan pikiran. Filsafat memiliki bidang-bidang kajiannya mencakup berbagai disiplin ilmu antara lain:
a. Metafisika : penyelidikan di balik alam yang nyata
b. Kosmologo : penyelidikan tentang alam (filsafat alam)
c. Logika : pembahasan tentang cara berfikir cepat dan tepat
d. Etika : pembahasan tentang timgkah laku manusia
e. Theodica : pembahasan tentang ke-Tuhanan
f. Antropolog : pembahasan tentang manusia
Dengan demikian, jelaslah bahwa etika/akhlak termasuk salah satu komponen dalam filsafat. Banyak ilmu-ilmu yang pada mulanya merupakan bagian filsafat karena ilmu tersebut kian meluas dan berkembang akhirnya membentuk disiplin ilmu terendiri dan terlepas dari filsafat. Demikian juga etika/akhlak, dalam proses perkembangannya, sekalipun masih diakui sebagian bagian dalam pembahasan filsafat, kini telah merupakan ilmu yang mempunyai identitas sendiri.7
Selain itu filsafat juga membahas Tuhan, alam dan makhluknya. Dari pembahasan ini akan dapat diketahui dan dirumuskan tentang cara-cara berhubungan dengan Tuhan dan memperlakukan makhluk serta alam lainnya. Dengan demikian akan diwujudkan akhlak yang baik terhadap Tuhan, terhadap manusia, dan makhluk Tuhan lainnya.8
Jadi kesimpulannya hubungan antara Ilmu Akhlak dengan Ilmu Filsafat adalah di dalam Ilmu filsafat dibahas hal-hal yang berhubungan dengan etika/akhlak dan dibahas pula tentang Tuhan dan bahkan menjadi cabang ilmu tersendiri yaitu Etika dan Theodica. Setelah mempelajari ilmu0ilmu tersebut diharapkan dapat terwujud akhlak yang baik.

4. Hubungan antara Ilmu Akhlak dengan Hukum Islam
Pengertian hukum islam atau hukum syara' menurut ulama ushul ialah doktrin (kitab) syari’ yang bersangkutan dengan perbuatan orang-orang mukallaf yang bersangkutan dengan perbuatan orang-orang mukallaf secara perintah atau diperintahkan memilih atau berupa ketetapan (taqrir). Sedangkan menurut ulama fiqh hukum syara ialah efek yang dikehendaki oleh kitab syari’ dalam perbuatan seperti wajib, haram dan mubah. 9
Hukum Islam berarti keseluruhan ketentuan-ketentuan perintah Allah yang wajib diturut (ditaati) oleh seorang muslim. Dan di dalamnya termuat Ilmu Akhlak.
Pokok pembicaraan mengenai hubungan akhlak dengan ilmu hukum adalah perbuatan manusia. Tujuannya mengatur hubungan manusia untuk kebahagiannya.
Hubungan antara Ilmu Akhlak dengan Hukum Islam adalah akhlak dapat mendorong manusia untuk tidak berfikir dalam keburukan, tidak mengkhayal yang tidak berguna, sedangkan hukum dapat menjaga hak milik manusia dan mencegah orang untuk melanggar apa yang tidak boleh dikerjakan.
Selain itu, di dalam hukum terdapat sanksi-sanksi yang dapat memberi hukuman bagi seorang yang memiliki akhlak buruk. Misalnya saja suatu ketika ada seseorang yang berakhlak kurang baik melakukan suatu tindakan buruk contohnya mencuri, dia akan mendapatkan sanksi, karena secara hukum dia telah melakukan pelanggaran.
Sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa hubungan antara Ilmu Akhlak dengan hukum disini adalah dalam hukum terdapat perintah dan larangan, jika melaksanakan yang diperintahkan berarti dapat dikatakan berakhlak baik, namun jika melanggar apa yang diperintahkan maka dapat dikatakan akhlaknya buruk, dan hukum memberi balasan atas baik buruknya akhlak.
BAB III
KESIMPULAN

? Hubungan antara Ilmu Akhlak dan Ilmu Tauhid adalah Tauhid memberikan arah terhadap akhlak, dan akhlak memberikan isi terhadap arahan tersebut.
? Hubungan antara Ilmu Akhlak dan Ilmu Tasawuf adalah Akhlak merupakan pangkal tolak tasawuf, sedangkan tasawuf adalah esensi dari akhlak itu sendiri.
? Hubungan antara Ilmu Akhlak dengan Ilmu Filsafat adalah di dalam Ilmu filsafat dibahas hal-hal yang berhubungan dengan etika/akhlak dan dibahas pula tentang Tuhan dan bahkan menjadi cabang ilmu tersendiri yaitu Etika dan Theodica. Setelah mempelajari ilmu0ilmu tersebut diharapkan dapat terwujud akhlak yang baik.
? Hubungan antara Ilmu Akhlak dengan hukum disini adalah dalam hukum terdapat perintah dan larangan, jika melaksanakan yang diperintahkan berarti dapat dikatakan berakhlak baik, namun jika melanggar apa yang diperintahkan maka dapat dikatakan akhlaknya buruk, dan hukum memberi balasan atas baik buruknya akhlak.

Manfaa't melaksanakan semua perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya





Sesungguhnya..


Melaksanakan semua perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya.
Adalah untuk kebaikan Hamba-Nya.

Tidak akan mengurangi atau menambah Kebesaran dan Ke-Agungan Allah., SWT., bagi yang melanggar perintah-Nya dan larangan-Nya, tersebut.

Pertanyaan.
Untuk apa sesungguhnya, perintah-Nya dan larangan-Nya itu buat manusia..??

Bismillahirahmanirrahim..
Alhamdulillah..
La Hawla Wala Quwata Illa Billah..

1. Di Dunia..
Jawaban singkatnya., agar., Manusia menjadi "Khalifah" atau "Insan Kamil" di muka Bumi.

Kalau sudah menjadi "Khalifah" atau "Insan Kamil" di muka Bumi, maka..

- Di pasangkan-Nya., "Mahkota" Ke Kahalifahan.
Maka, akan merasakan "Manisnya Iman" atau "Nikmatnya Iman" yg sesungguhnya.

- Dipasangkan-Nya., "Pakaian Taqwa".
Maka, tidak ada kesedihan dan duka cita atau tidak takut mati dan tidak takut miskin.

- Diberikan-Nya., "Ilmu Lansung Dari Sisi-Nya".
Maka, Shiratalmustaqim, menjadi jelas, luas dan terang menderang.
Bukan seperti rambut di belah tujuh kecil jalannya, gelap dan ada keraguan.

- Dan lain-lain..

2. Di Akherat nantinya.

A. Manusia dibangkitkan sesuai dengan "Sifat" dan "Akhlaknya" waktu di Dunia.

Ada seperti.
- Babi
- Monyet
- Anjing
- Dan lain-lain

Tidak dikhitan dan telanjang bulat.

B. Waliullah, Insan Kamil, Kekasih Allah SWT dan Khalifah Allah SWT.
Tidak hancur jasadnya dalam kubur.
Mereka dibangkitkan utuh, dan dalam keadaan di khitan.

Dipasangkan mahkota dan pakaian kebesaran pada mereka.

PENJELASAN TENTANG 17 POIN SUNNAH RASUL MENURUT PERSPEKTIF JONI FATRIA




Ali bin Abu Thalib ra pernah bertanya sama Rasulullah Muhammad SAW.,Apa Sesunguhnya., yang di sebut Sunah..?

Rasulullah Muhammad SAW., menjawab.,

- Ma'krifat Adalah Modalku. - Akal Fikiran Sumber agamaku.- Cinta adalah Dasar Hidupku.- Rindu Kendaraanku.- Berzikir adalah Kawan dekatku.- Keteguhan Perbendaharaanku.- Duka adalah Kawanku.- Ilmu Senjataku.- Ketabahan adalah Pakaianku.- Kerelaan Sasaranku.- Faqir adalah Kebangganku.- Menahan diri Pekerjaanku.- Keyakinan Makananku.- Kejujuran Perantaraku.- Ketaa'tan adalah Ukuranku.- Berjihad Perangaiku.- Dan hiburanku dalam Shalat.


1. Ma'krifat Modalku.

Awalaudin Ma'krifatullah.Awal beragama nengenal Allah SWT.

Man Arafa Nafsahu Wa Qod Arafa Rabbahu.Siapa yang mengenal dirinya akan mengenal Tuhannya.

Hikmahnya.Baru awal..!!??Bukan puncak..!!??

Hati-hati..!!! Terjebak dengan Ma'krifat Iblis dan Ma'krifat Firau'n.

Jangan mengharapkan Tahta, Harta dan Prestise.


2. Akal fikiran Sumber Agamaku.

Sesungguhnya., Ilmu Ma'krifatullah bisa dieterima oleh Akal sehat, Empiris, Rasional dan Ilmiah.


3. Cinta adalah Dasar Hidupku.

Rasulullah Muhammad SAW., berjihad juga dengan Cinta. Bukan karena dendam, benci dan lain-lain.


4. Rindu Kendaraanku.

Rindu bertemu dengan Allah SWT.Baik di Dunia dan di Akhirat.



5. Berdzikir teman dekatku.

Hikmahnya.
a. Agar Iblis dan Jin tidak berdaya menggoda.
b. Seperti HP., Agar selalu OL dapat sinyal dan lain-lain, agar siap menerima SMS dan Panggilan dari Allah SWT
Dengan begitu kita akan bisa membedakan, mana petunjuk dari Allah SWT (Ilmu Laduni), Iblis dan Jin.


6. Keteguhan perbendaharaanku.

Berpegang teguh pada tali Allah SWT.

Itibar.Berpegang teguh pada Kitabullah dan Sunah Rasulullah Muhammad SAW. Tidak akan pernah sesat selama-lamanya

7. Duka adalah kawan dekatku.
Hidup penuh dengan cobaan, tapi tidak bersediih dan berduka cita.

8. Ilmu adalah Senjataku.
Agar tidak tertipu dan kena tipu.

9. Ketabahan adalah pakaianku.
Selalu bersabar dan bersyukur, walau apapun yang terjadi.

10. Kerelaan Sasaranku.
 Ikhlas dan Lillahi Taa'la..Tidak mengharapkan upah, penghargaan, prestise dan lain-lain.


11. Faqir kebanggaanku.

Kutipan Hadits.- Sorga di penuhi oleh orang miskin.

- Allah SWT., malu menghisap oarang miskin yg Shaleh.

- Sesunguhnya bukan kemiskinan yg ku takutkan terhadap umatku, tapi adalah kemewahan.

- Yang di sebut rezeki adalah, apa yg habis dimakan dan dipakai, sisanya akan di minta pertanggung jawabannya.


12.Menahan diri Pekerjaanku.
Menghilangkan sifat.- Sombong.- Ujub.- Ria.- Iri.- Dengki.- Takabur.- Pendendam.- Kikir.- Dan lain-lain.


13. Keyakinan Makananku.

Apa-apa yang dikatakan siap di pertanggung jawabkan Dunia dan Akhirat.


14. Kejujuran Perantaraku.

Kunci Islam adalah Jujur.

Terutama Jujur pada diri sendiri dan Allah SWT.

Inilah salah satu syarat, Shalat bisa Khusyuk atau Shalat merupakan Mi'rajnya orang Muslim.


15. Ketaatan Ukuranku.

Iman itu bisa naik turun, jika di ukur dari kataatan.


16. Berjihad Perangaiku.

Jihad = Johud = Bersungguh-sungguh.

Kutipan Hadits.Puncak Islam adalah Jihad.

17. Hiburanku dalam Shalat.

Walau seberat apapun beban hidup, akan terhibur dengan Shalat.

Copyright @ 2013 TAUHID MURNI.

Designed by ZMTemplates